customer.co.id – Pandemi COVID-19 memaksa banyak sektor untuk tutup termasuk pub di Inggris. Kini tempat-tempat itu sedang berjuang untung bangkit dan melawan ancaman baru yaitu krisis energi.

Dikutip dari CNN persatuan bisnis pub dan produsen bir terkemuka di Inggris menyebutkan ada kenaikan pada tarif listrik, pemanas dan pasokan barang kebutuhan lainnya.

Kondisi ini membuat banyak pub dan pabrik bir tutup. Hal ini disebut membuat pegawai kehilangan pekerjaan dan siap menghadapi resesi.

“Kami merasa kenaikan harga bahan bakar ini membuat bisnis terganggu. Kini kenaikan bisa lebih dari 300%, lebih tinggi dari angka sebelum pandemi,” ujarnya dalam sebuah surat yang ditujukan ke pemerintah Inggris, Rabu (31/8/2022).

Pimpinan di pub Greene King Nick Mackanzie menyebutkan untuk biaya energi di salah satu cabangnya mencapai US$ 38.744 per tahun.

“Pemerintah saat ini memang sudah menempuh kebijakan untuk membantu masyarakat mengatasi lonjakan harga ini. Tapi pebisnis harus menghadapinya sendirian,” jelas dia.

CEO St Austell Brewery menyebutkan biaya energi ini akan mengancam banyak bisnis di Inggris dan berpotensi menutup seluruh pub di Inggris.

Karena itu perdana menteri Inggris berikutnya perlu mengambil kebijakan baru untuk melawan krisis ini.

Memang pasar energi saat ini sangat fluktuatif. Para pengusaha memperhatikan dan menunggu Rusia yang ingin menghentikan pasokan gas ke Eropa.

Saat ini ada 39.973 pub di Inggris dan Wales. Angka ini terus-terusan turun sejak 2012.

Baca Artikel Menarik Lainnya dari Customer.co.id di Google News