Kentucky; Setidaknya 26 orang, termasuk anak-anak, tewas dalam banjir bandang yang dipicu guyuran hujan deras di Kentucky timur, Amerika Serikat (AS). Gubernur Kentucky Andy Beshear khawatir angka kemaian akan terus bertambah seiring berlanjutnya operasi pencarian dan penyelamatan.
 
“Kerusakan terjadi di mana-mana, dan lebih banyak guyuran hujan akan terjadi sepanjang Senin,” tulis Beshear via Twitter pada Minggu, 31 Juli 2022.
 
“Saya mengenali beberapa korban tewas, dan kami khawatir jumlahnya akan terus bertambah,” sambung dia.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Petugas akan menemukan lebih banyak jasad korban dalam beberapa hari dan pekan ke depan,” tutur Beshear.
 
Empat anak-anak dikonfirmasi tewas dalam banjir Kentucky pada Sabtu kemarin. Sang gubernur mengatakan kepada NBC News bahwa angka kematian di kalangan anak-anak kemungkinan bertambah dua lagi sepanjang hari Minggu.
 
Bertambahnya angka korban tewas terjadi di saat petugas mulai mencapai area-area terpencil yang sebelumnya sulit diakses.
 
Baca:  Banjir Kentucky Tewaskan 25 Orang, Termasuk 4 Anak-Anak
 
Badan Cuaca Nasional AS (NWS) mengatakan bahwa hujan masih akan mengguyur Kentucky dalam beberapa hari ke depan, setidaknya hingga Selasa besok. NSW mengatakan, peringatan banjir diberlakukan di beberapa wilayah selatan dan timur Kentucky sejak Minggu hingga Senin ini.
 
Banjir ini merupakan bencana alam kedua terbesar di Kentucky dalam tujuh bulan terakhir. Sebelumnya, Kentucky dilanda sejumlah tornado yang menewaskan hampir 80 orang.
 
Kamis kemarin, Beshear mendeklarasikan status darurat dan mendeskripsikan bencana di wilayahnya sebagai “salah satu banjir terburuk dan paling mematikan” dalam sejarah Kentucky.
 
Presiden AS Joe Biden telah mendekllarasikan status bencana besar untuk Kentucky pada Jumat kemarin. Deklarasi itu membuka akses pendanaan federal untuk pemerintah Kentucky.
 
Terdapat lebih dari 14.000 laporan pemadam listrik di seanter Kentucky pada Minggu petang kemarin, menurut cacatan PowerOutage.us. Beshear mengatakan, perbaikan infrastruktur yang rusak akibat banjir dan badai di wilayahnya dapat memakan waktu hingga bertahun-tahun.
 

(WIL)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.

Baca Artikel Menarik Lainnya dari Customer.co.id di Google News