loading…

Sejumlah nelayan mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan solar bersubsidi seharga Rp5.500 per liter dalam sebulan terakhir. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa

JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kian memanas seiring konflik Rusia-Ukraina yang tak kunjung reda. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, kenaikan harga minyak mentah di pasar global sangat luar biasa.

Per Senin (18/7/2022) harga minyak jenis brent ditutup di level USD106,27 per barel, naik 5,05% dibanding posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Erick mengaku dinamika harga minyak dunia berdampak besar pada Bahan Bakar Minyak (BBM) milik PT Pertamina (Persero).

Meski begitu, dia memastikan pemerintah hadir untuk mengantisipasi kemungkinan yang muncul akibat gejolak harga minyak dunia ini.

Baca juga: Nelayan Wajib Dapat BBM Subsidi, Erick Thohir Singgung Solar Subsidi Dipakai Perusahaan

Salah satunya, memastikan harga BBM bersubsidi tidak dinaikkan, misalnya solar bersubsidi. Pemerintah memang menambah subsidi dan kompensasi energi tahun ini sebesar Rp350 triliun.

“Mohon maaf hari ini harga BBM di dunia itu lagi tinggi-tingginya Bapak-bapak, pemerintah sekarang sudah menyubsidi Rp350 triliun buat BBM dan listrik. (Kenaikan) harga ini luar biasa dengan adanya perang Rusia-Ukraina, katanya mau naik lagi USD200, tetapi Pak Presiden tetap meminta solar buat nelayan tidak naik,” beber Erick, Selasa (19/7/2022).

Lantaran BBM disubsidi pemerintah, Erick mengingatkan agar pelaksanaannya tepat sasaran. Pasalnya, dia khawatir BBM bersubsidi justru dinikmati korporasi dan orang-orang kaya.

Baca juga: Sopir dan Kernet Truk Tangki Pertamina Jadi Tersangka Kecelakaan Maut Cibubur

“Kalau pemerintah hadir kita juga harus introspeksi diri agar BBM tepat sasaran, nah wadahnya ada koperasi,” tuturnya.

Dia pun menawarkan agar para nelayan atau petani membentuk sebuah koperasi. Tujuannya mempermudah pendataan yang dilakukan Pertamina untuk mendistribusikan solar bersubsidi.

“Koperasi tinggal bekerja sama dengan Pertamina memberikan solar yang sesuai dengan kebutuhan, sehingga tidak diambil lagi industri besar yang dipakai buat kegiatan korporasi. Akhirnya apa? Yang miskin tetap miskin, yang kaya dapat solar subsidi. Mau sampai kapan kita memperbaiki negara kita,” tukasnya.

(ind)

Artikel ini bersumber dari ekbis.sindonews.com.

Baca Artikel Menarik Lainnya dari Customer.co.id di Google News