loading…

Richard Hutchinson Hopper (kanan) sang penemu harta karun Riau. Foto/Dok.CPI

JAKARTA – Mendengar Jepang berhasil mengebor minyak di Minas, Riau, membuat Richard Hutchinson Hopper menjadi gelisah. Dia pun memutuskan segera menuju ke sana untuk mengetahui lebih jauh soal penemuan harta karun tersebut.

Baca juga: Kisah Penemu Harta Karun di Riau, Upaya Amerika Cicipi Minyak di Indonesia Kerap Dihalangi Belanda (Bagian 1)

Dengan berbagai upaya, Hopper berhasil mendapatkan sampel minyak bumi Minas untuk dikirim ke petinggi Socal di San Francisco dengan menggunakan kapal SS Cape Constance. Mengingat karakter dari minyak Minas yang sangat pekat, penerima kiriman tersebut mengira cairan itu lilin pelumas lantai dan meletakkan barang tersebut di gudang alat kebersihan. Tak ayal sampel itu seolah terlupakan begitu saja.

Setelah menghabiskan waktu berminggu-minggu pencarian di semua cabang Socal di seluruh dunia, pada akhirnya minyak tersebut ditemukan dan dapat diteliti di laboratorium. Hasil laboratorium Socal menyatakan minyak Minas memiliki kadar belerang yang rendah dan bermutu tinggi. Lebih mengejutkan, daerah Minas pada saat itu merupakan cadangan minyak terbesar di Asia Tenggara.

Di dunia perminyakan, minyak Minas itu dikenal sebagai Sumatran Light Crude. Peresmian produksi minyak Minas dilakukan pada Minggu, 20 April 1952. Dalam reportase yang berjudul Caltex Pacific Opent Sumatra dari harian Algemeen Indisch Dagblaad: de Preangerbode, edisi 23 April 1952, diwartakan bahwa acara ini dihadiri oleh Menteri Urusan Ekonomi Sumanang sebagai perwakilan Pemerintah RI.

“Tujuh ekor kerbau disembelih untuk acara ‘selametan’ itu yang secara simbolis menandai akhir dari pencarian minyak selama 28 tahun. Seusai acara makan siang, Menteri Sumanang membuka keran di stasiun pompa minyak untuk menandai beroperasinya secara resmi lapangan minyak Minas,” tulis Rino.

Berdasarkan biografi Julius Tahija yang berjudul “Melintas Cakrawala”, ketika perekonomian Indonesia sedang kolaps pascapemberontakan PKI pada 1965, penemuan minyak di Sumatra Tengah berperan dalam menyelamatkan Indonesia. Saat itu, tulis buku tersebut, pemerintahan Soeharto berusaha mencari pinjaman ke negara donor dari Eropa, Amerika, Jepang dan lain-lain.

Jaminan utama atas pinjaman tersebut yakni hasil produksi minyak di daerah yang pernah dieksplorasi Hopper. Seentara itu Hopper sang penemu minyak Minas itu meninggalkan Indonesia pada 1954.

Dia melanjutkan kariernya di dunia perminyakan Amerika. Hasratnya yang dalam mengenai minyak dan sejarah Indonesia dia goreskan dalam berbagai karya tulis antara lain The Geology of Indonesia (1949), Summarized History of Central Sumatra (1954), Petroleum in Indonesia : History, Geology and Economic Significance (1971), The Discovery of Indonesia’s Minas Oilfield serta Fifty Years of Exploring for Oil in Indonesia (1974).

Baca juga: Polri Pastikan CCTV di Rumah Dinas Kadiv Propam Rusak, Timsus Temukan Rekaman Lain

Hopper yang juga fasih berbahasa Indonesia dan Belanda itu meningga dunia pada umur 95 tahun di Cooperstown, New York pada 22 Agustus 2009. Menurut obituari yang diterbitkan Los Angeles Times edisi 26 Agustus 2009, Hopper dimakamkan bersebelahan dengan istrinya, Renee, yang telah bersama lebih dari 60 tahun.

(uka)

Artikel ini bersumber dari ekbis.sindonews.com.

Baca Artikel Menarik Lainnya dari Customer.co.id di Google News