customer.co.id – Diabetes tipe 2 dan penyakit jantung yang ditakuti banyak orang ternyata lebih berisiko dialami oleh mereka yang suka begadang .

Orang yang doyan ngalong berpeluang terkena dua penyakit degeneratif itu karena tubuhnya kurang mampu membakar lemak sebagai energi.

Di samping itu, begadang yang merupakan kebiasaan tidak sehat tersebut juga menyebabkan tubuh mereka lebih mudah menumpuk lemak.

Keterkaitan antara dua penyakit tersebut dengan begadang diketahui setelah sebuah studi dipublikasikan di Jurnal Experimental Physiology tahun ini.

Begadang picu diabetes tipe 2 dan penyakit jantung

Risiko orang yang suka begadang terkena diabetes tipe 2 dan penyakit jantung lebih besar ketimbang mereka yang tidur dan bangun lebih awal.

Pasalnya, tubuh orang yang dikategorikan sebagai early birds mampu menggunakan lemak sebagai sumber energi.

Orang yang tidak suka begadang biasanya juga lebih aktif secara fisik ketika mereka menjalani hari.

Meski diabetes tipe 2 dan penyakit jantung mengintai, untungnya risiko terkena gangguan kesehatan ini bisa dikurangi.

Caranya adalah mengetahui preferensi tidur yang membantu membuat keputusan mengenai gaya hidup yang sehat agar risiko berkurang.

“Harapan saya semoga temuan ini memberikan alasan fisiologis mengapa orang mungkin meningkatkan risiko penyakit karena begadang.”

Hal tersebut dijelaskan penulis utama studi yang juga profesor bidang metabolisme dan endokrinologi Rutgers University, Steven Malin, Ph.D.

Ia menambahkan, risiko mengalami diabetes tipe 2 dan penyakit jantung juga bisa dicegah jika orang yang suka begadang menghentikan kebiasaan ini.

Misalnya mulai melakukan aktivitas fisik, makan makanan seimbang sepanjang hari, tidak makan larut malam, dan tidur lebih awal.

Jalannya studi

Studi yang dipublikasikan di Jurnal Experimental Physiology meninjau perbedaan biologis terhadap 51 responden dengan sindrom metabolik.

Sindrom metabolik adalah gangguan kesehatan yang berisiko memicu stroke, serangan jantung, penyakit jantung koroner, termasuk diabetes tipe 2.

Peneliti yang terlibat dalam studi lantas membagi responden menjadi dua kelompok berdasarkan kuisioner.

Dalam hal ini, mereka sengaja memberikan kuisioner yang dirancang untuk mengukur kronotipe awal dan akhir.

Peneliti juga menggunakan pencitraan untuk mengukur massa tubuh dan komposisi tubuh.

Tes yang digelar peneliti turut melibatkan sensitivitas insulin dan sampel napas untuk mengukur metabolisme lemak.

Peneliti juga mengukur kadar karbohidrat seseorang ketika sedang beristirahat dan selama aktivitas fisik.

Reponden yang terlibat dalam studi kemudian dipantau selama seminggu dan diminta menggunakan akselerometer -alat pengukur kecepatan.

Alat tersebut mereka kenakan di pinggul kanan untuk melacak kapan saja mereka menjadi aktif ketika menjalani hari.

Supaya meminimalkan dampak atau perbedaan diet dalam studi, respoden diminta makan diet ketat kalori dan nutrisi dan berpuasa semalaman.

Tak hanya itu, responden juga menjalani dua sesi latihan 15 menit. Satu sesi latihan intensitas sedang dan satu intensitas tinggi di treadmill.

Peneliti lantas mengukur tingkat kebugaran aerobik mereka dengan menambah sudut kemiringan treadmill menjadi 2,5 persen per menit.

Kemiringan treadmill terus ditambah peneliti sampai responden yang berlari tidak dapat melanjutkan latihan secara fisik.

Kronotipe orang yang suka begadang

Sebelum membahas hasil studi, ketahui dulu bagaimana kronotipe orang yang suka begadang dan yang tidurnya lebih gasik.

Kecenderungan alami untuk tidur dan bangun pada waktu tertentu ternyata memengaruhi berbagai aspek kesehatan -disebut juga kronotipe.

Hal tersebut dapat menentukan peningkatan risiko penyakit jantung, gangguan kejiwaan, hingga risiko kematian dini.

Tetapi, setiap orang memiliki kronotipe yang berbeda. Ini disebabkan oleh jam internal atau ritme sirkadian pada setiap orang yang tidak sama.

Ritme sirkadian yang menentukan tidur-bangun dipengaruhi oleh terang dan gelapnya cahaya.

Ketika sinar matahari masuk ke mata, hal ini merangsang kelenjar pineal untuk menghentikan produksi hormon tidur yang disebut melatonin.

Saat malam tiba, melatonin dapat diaktifkan oleh tubuh yang membuat orang menjadi ngantuk.

Early birds yang alami, ritme sirkadiannya menurunkan melatonin lebih awal di pagi hari, menghasilkan peningkatan aktivitas saat mereka bangun.”

Demikian penjelasan Direktur Institute Sleep Medicine di Staten Island University Hospital, Thomas Kilkenny, DO.

Night owls jam tubuhnya yang mengeluarkan melatonin jauh di malam hari yang mengakibatkan tidur tertunda dan pagi hari lamban,” sambungnya.

Hasil studi

Setelah peneliti menggelar studi, hasilnya didapati bahwa kronotipe seseorang ternyata memengaruhi metabolismenya.

Dengan kata lain, orang yang tidur-bangun lebih awal dapat mengubah lebih banyak lemak menjadi energi ketimbang orang yang begadang.

Hal tersebut berbeda dengan orang yang suka begadang karena tubuh mereka menggunakan lemak lebih sedikit.

Tubuh mereka juga menggunakan lebih banyak karbohidrat ketika sedang beristirahat dan olahraga.

Resistensi insulin

Orang yang suka begadang berisiko terkena diabetes tipe 2 lantaran tubuh mereka resisten terhadap insulin.

Menurut Kilkenny, kondisi tersebut dapat menyebabkan obesitas, penambahan berat badan, dan metabolisme lipid yang tidak normal.

Penyebab diabetes tipe 2 tidak sepenuhnya jelas, tetapi ada penjelasan yang menunjukkan resistensi insulin adalah salah satu penyebab utama.

Satu penjelasan di balik hubungan resistensi insulin dan kronotipe adalah padatnya rutinitas sehari-hari yang menyebabkan stres.

Padahal, stres dapat mengganggu ritme sirkadian.

Cara mencegah diabetes tipe 2 dan penyakit jantung

Terlepas dari kronotipe yang memengaruhi jam tidur ketika malam hari, ada beberapa cara untuk mencegah diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Berikut di antaranya:

  • Makan makanan rendah karbohidrat atau diet seimbang lainnya
  • Melakukan latihan aerobik setiap hari
  • Menggerakkan tubuh selama 2 menit setiap jam atau jalan selama 10-15 menit setelah makan
  • Menghindari aktivitas yang membuat stres atau berat di malam hari untuk mempersiapkan tubuh untuk tidur
  • Meminimalkan makanan yang merangsang (tinggi gula, kafein), terutama larut malam.
  • Tidak menggunakan barang elektronik, seperti ponsel dan tablet sebelum tidur.

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website kompas.com. Situs https://customer.co.id adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://customer.co.id tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”

Baca Artikel Menarik Lainnya dari Customer.co.id di Google News