customer.co.id – CEO Tesla Elon Musk akhirnya resmi menjadi pemilik Twitter setelah melewati berbagai kendala.

Mulanya, Elon Musk mengatakan niatnya untuk membeli Twitter seharga USD 44 miliar atau setara dengan Rp682 triliun kepada pihak platform berlambang burung biru tersebut.

Namun, niat Elon Musk itu sempat ditolak oleh dewan direksi Twitter . Bahkan, dewan direksi membuat ketentuan khusus agar Elon Musk tidak dapat membeli perusahaan digital tersebut.

Kemudian, dewan direksi pun berubah pikiran dan menerima tawaran dari Elon Musk . Selanjutnya, CEO Tesla tersebut pun meminta Twitter untuk memberikannya data terkait pengguna asli dari platform itu.

Belum usai sampai di situ, Elon Musk tidak terima dengan data yang diberikan oleh Twitter , pasalnya, kurang dari 5 persen pengguna Twitter adalah bot.

Oleh karena hal itu, Elon Musk sempat menyatakan bahwa dirinya ingin menarik tawarannya untuk Twitter . Tentu saja, pihak Twitter pun tidak terima.

Polemik tersebut pun berujung pada gugatan di pengadilan. Namun pada akhirnya, Elon Musk pun berhasil membeli Twitter dengan harga Rp682 triliun dan resmi menjadi pemilik platform tersebut pada Jumat, 28 Oktober 2022.

Lantas, apa saja yang perlu diketahui soal akuisisi Twitter yang dilakukan oleh Elon Musk tersebut? Berikut penjelasan yang telah dirangkum oleh Pikiran-Rakyat.com.

– Twitter mengajukan dokumen untuk menghapus sahamnya dari New York Stock Exchange. Dengan begitu, Twitter mengakhiri perjalanannya sebagai perusahaan publik selama sembilan tahun.

– Twitter menjadi perusahaan swasta yang sepenuhnya akan dikendalikan oleh peraturan yang dibuat oleh pemiliknya.

– Elon Musk melakukan perubahan tatanan petinggi dengan memecat sejumlah pihak di antaranya adalah CEO Twitter Parag Agrawal, Pimpinan Finansial Ned Segal dan Pimpinan Legal dan Kebijakan Vijaya Gadde.

– Twitter akan segera membentuk dewan moderasi konten dengan sudut pandang yang beragam. Tidak ada keputusan soal konten yang akan dibuat, sebelum dewan tersebut menggelar sidang.

– Perubahan Twitter yang dilakukan oleh Elon Musk akan terus dipantau oleh regulator. Diketahui, sebuah undang-undang baru yang disahkan tahun ini di Uni Eropa dapat membuat Twitter dikenai denda jika gagal mengatasi masalah, seperti soal ujaran kebencian dan informasi palsu.

Adapun, Elon Musk berjanji bahwa di bawah kepemimpinannya ini, Twitter akan mencegah terjadinya ujaran kebencian yang dapat menimbulkan perpecahan.

Oleh karena hal tersebut, Elon Musk ingin membuat algoritma penentu konten yang dapat disajikan kepada penggunanya.***

Baca Artikel Menarik Lainnya dari Customer.co.id di Google News