Hampir setahun yang lalu, rahang bagian bawah Brian Wright diganti dengan tulang yang diambil dari kakinya. Kini, para dokter di Pusat Kanker Clatterbridge di Liverpool, Inggris, berharap perawatan yang mereka berikan dapat mencegah kanker, agar tumor di mulutnya tidak kembali.

Brian telah pulih dengan baik, tetapi dokter khawatir bahwa kanker di bagian kepala dan lehernya berpeluang tinggi untuk kembali.

Mereka telah mengikutsertakan Brian dalam sebuah uji coba untuk menguji vaksin yang dibuat dari tumornya sendiri, suntikan yang seharusnya dapat membuat sistem kekebalannya waspada terhadap tanda-tanda awal jika kankernya kambuh.

Untuk membuat vaksinnya, pertama, sel-sel kanker dikeluarkan dari seorang pasien.

Mutasi DNA yang unik pada tumor diidentifikasi dan kemudian dipotong, dan ditempelkan ke dalam virus yang tidak berbahaya.

Ketika virus disuntikkan ke dalam tubuh, virus itu akan melatih sistem kekebalan untuk menargetkan sel-sel kanker, dengan harapan dapat menghancurkannya, bahkan sebelum mereka membentuk benjolan. Awalnya, Brian ragu untuk melalui uji coba tersebut.

“Jika Anda menderita kanker pada tenggorokan Anda dan mereka akan menyuntik Anda lagi dengan kanker itu, sepertinya sulit dibayangkan. Tapi ketika Anda berbicara dengan orang yang menjelaskan (tentang perawatan ini, mereka mengatakan) bahwa tindakan itu tidak akan membuat kanker itu kembali, namun akan menghentikannya,” ujar Brian Wright kepada Associated Press.

Christian Ottensmeier, direktur Klinis dari pusat kanker yang merawat Brian Wright mengatakan, dia optimistis bahwa perkembangan tersebut dapat mengarah pada peningkatan yang signifikan dalam perawatan yang tersedia bagi pasien.

“Jika kami dapat melatih sistem kekebalan untuk memilih sel-sel kanker yang menyebabkan kambuhnya kanker, pada saat kita tidak dapat melihatnya, maka kemungkinan akan kelangsungan hidup jangka panjang untuk pasien akan jauh lebih tinggi,” jelas Christian Ottensmeier kepada Associated Press.

Hasil uji coba awal dari sekelompok kecil pasien cukup menjanjikan. Sejauh ini delapan pasien telah menerima vaksin dan mereka tetap sehat beberapa bulan setelah mendapatkan perawatan. Kelompok kedua yang terdiri dari delapan pasien tidak diberikan suntikan.

Sejauh ini, kanker pada dua di antaranya kambuh. Vaksin yang mereka gunakan di Pusat Kanker Clatterbridge sangat eksperimental, tetapi merupakan teknologi yang sama yang digunakan untuk memproduksi obat COVID-19 yang efektif selama pandemi.

Suntikan vaksin COVID-19 AstraZeneca yang dikembangkan bersama Universitas Oxford dibuat dengan cara yang sama. Teknologi mRNA yang digunakan oleh perusahaan Pfizer dan Moderna juga awalnya dikembangkan untuk mengatasi kanker. Profesor Adrian Hill dari Institut Jenner di Universitas Oxford mengatakan, pandemi telah mempercepat pengembangan vaksin ini.

“Kami telah mempelajari keselamatan vaksin ini dari miliaran orang, sedangkan sebelumnya hanya dari ribuan. Ini merupakan data tentang keselamatan yang sangat membantu. Dan, berarti kini akan ada lebih banyak investasi di berbagai bidang seperti kanker, di mana terapi yang lebih baik masih sangat dibutuhkan,” tambah Adrian Hill.

Brian Wright mendapat dosis vaksinnya setiap tiga minggu. Ia merasa kondisinya baik-baik saja. [di/jm]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.

Baca Artikel Menarik Lainnya dari Customer.co.id di Google News