Tata Cara Menguburkan Jenazah yang Jasadnya Tidak Utuh

Tata Cara Menguburkan Jenazah yang Tidak Utuh

© Shutterstock.com

Ada suatu kondisi tertentu di mana seseorang yang meninggal dunia tidak dalam kondisi yang utuh. Bisa saja orang tersebut baru saja mengalami kecelakaan yang parah atau bisa juga karena mengalami bencana alam, seperti gempa, tanah longsor, gunung meletus, dan sebagainya. Lalu, bagaimana tata cara menguburkan jenazah dalam kondisi yang tidak utuh?

Melalui penjelasan sebelumnya tentang kategori mati syahid, maka orang yang meninggal karena bencana atau karena kecelakaan adalah tergolong sebagai syahid akhirat. Nah, jika jasadnya masih bisa ditemukan, maka wajib untuk diurusi atau dipulasara dengan cara yang lengkap. Namun jika saat dimandikan ada kemungkinan jenazah mengalami kerusakan, maka bisa digantikan dengan tayamum.

Sedangkan jika jenazah yang ditemukan hanya berupa potongan tubuhnya saja, maka potongan yang ditemukan tersebut haruslah tetap dimandikan dan disholatkan seperti menyolatkan jenazah seutuhnya, baru kemudian dikuburkan.

Dalam hal menguburkan jenazah, aturan yang berlaku dalam Islam adalah haram menguburkan dua orang jenazah dalam satu liang lahat. Tetapi jika kondisinya memang sangat darurat, misalnya jumlah jenazah yang sangat banyak dan sulit jika dikuburkan secara terpisah, maka diperbolehkan untuk menguburkannya dalam satu liang lahat. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw dahulu saat terjadi Perang Uhud.

Jadi, jika ada jenazah yang kondisinya tidak utuh, maka tata cara menguburkan jenazah yang baik adalah sebagai berikut sesuai dengan penjelasan dari kitab Tuhfatul Habib ala Syarhi al Habib juz 2 halaman 537:

Dimandikan

Tata cara yang pertama adalah dimandikan terlebih dahulu sebagaimana memandikan jenazah pada umumnya. Meskipun jenazah hanya berupa bagian dari potongan tubuhnya saja, maka tetap dimandikan. Tetapi jika tidak memungkinkan untuk dimandikan, maka ditayamumkan saja.

Dikafani dan Disholatkan

Tata cara yang kedua adalah dikafani dengan menggunakan kain seperti halnya saat mengafani orang meninggal pada umumnya, lalu kemudian disholatkan. Tetapi jika tidak bisa dimandikan atau ditayamumkan, maka tidak boleh disholatkan. Begitu pun ketika bagian potongan tubuhnya disucikan, maka disholatkan dengan niat menyolati bagian tubuh yang ditemukan.

Tetapi jika bagian tubuh tersebut masih diragukan, apakah tubuh tersebut sudah dimandikan dan disholat atau belum, maka niatnya adalah dita’liq atau dikaitkan.

Dimakamkan

Dan yang terakhir adalah dimakamkan atau dikuburkan. Tata cara menguburkan jenazah yang kondisinya tidak utuh sama seperti saat menguburkan jenazah yang utuh. Dengan minimal sekiranya tidak menimbulkan bau yang menyengat. Meskipun bagian tubuh yang dikuburkan tersebut hanya berupa jari atau kukunya saja. Di mana hal ini bertujuan untuk memuliakan jenazah tersebut.


Artikel ini bersumber dari www.dream.co.id.

Baca Artikel Menarik Lainnya dari Customer.co.id di Google News