loading…

Penanaman bibit mangrove di hutan bakau di areal Terminal Umum BUP Karya Citra Nusantara. Foto/Kontributor MPI

JAKARTA – Pembangunan pelabuhan berkonsep green port atau pelabuhan ramah lingkungan membutuhkan komitmen serius mengingat biayanya yang fantastis.

“Intinya komitmen dari semua pihak terutama manajemen karena kaitannya dengan biaya yang harus dikeluarkan,” ujar Kepala Divisi Revegetasi Pusat Studi Reklamasi Tambang LPPM IPB Sri Wilarso Budi Sri Wilarso, Jumat (1/7/2022).

Menurut dia, salah satu unsur dari green port adalah penanaman pohon di kawasan pelabuhan. Namun, penanaman pohon di pelabuhan relatif lebih sulit terutama pelabuhan yang kawasannya berdiri di atas tanah hasil revitalisasi.

“Di tempat yang bukan hasil timbunan, membuat lubang secara manual bisa tapi kalau di tempat timbunan untuk bikin lubang saja harus pakai alat berat, belum biaya mendatangkan tanah-tanah dari luar,” tuturnya.

Baca juga: Kemenhub Targetkan Bangun 29 Pelabuhan Penyeberangan Tahun Ini

Sri mengapresiasi pelabuhan yang berkomitmen beralih menjadi green port seperti yang dilakukan oleh Badan Usaha Pelabuhan PT Karya Citra Nusantara (KCN) .

Utamanya, kerja sama dengan pelabuhan baru pertama kali dilakukan IPB karena selama ini proyek penghijauan hanya berasal dari perusahaan pertambangan.

Dia menjelaskan, pihak KCN mendatangi IPB pada November 2021 lalu untuk meminta bantuan melakukan kajian teekait menentukan tanaman apa yang cocok untuk ditanam di pelabuhan berkonsep green port.

Para direksi KCN pun, menurut Sri, menyambut kedatangan dirinya dan tim dengan baik saat melakukan survei awal di pelabuhan yang berada di Marunda, Jakarta Utara tersebut.

Artikel ini bersumber dari ekbis.sindonews.com.

Baca Artikel Menarik Lainnya dari Customer.co.id di Google News