Yogyakarta: Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan vaksinasi covid-19 kelompok rentan masih alami kendala. Meskipun capaian vaksinasi di wilayah tersebut diklaim tinggi persentasenya.
 
Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DIY, Muhammad Agus Prihanto, mengatakan ada banyak kendala yang dihadapi untuk bisa menjangkau kelompok rentan, salah satunya disabilitas. Kelompok ini masih terbatas terhadap akses dalam berbagai hal.
 
“Informasi (yang kelompok disabilitas) terbatas. Sebagian besar tak ada yang mengantar,” kata Agus ditemui usai acara focus group discussion (FGD) tentang vaksinasi covid-19 untuk kelompok rentan di Grand Inna Malioboro Yogyakarta, Rabu, 27 Juli 2022.  
 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia mencontohkan disabilitas yang menggunakan kursi roda kesulitan akses apabila tidak bisa mengantar. Disabilitas netra dan tuli, lanjutnya, juga dalam posisi hampir sama.
 
“Dibutuhkan penghubung. Ada yang membantu transportasi dari rumah ke tempat vaksin kembali ke rumah. Ini pernah digerakkan tapi belum besar. (Sekarang) dukungan itu berkurang,” jelas.
 
Percepatan vaksinasi memang sempat dilaksanakan di berbagai titik di DIY. Meskipun, saat itu dibarengi dengan pemicu atau trigger, seperti lonjakan kasus covid-19 maupun diharuskan dengan persyaratan tertentu.
 
“Dulu ketika kenaikan vaksinasi ada trigger, paksaan. Misal, mudik harus menggunakan booster. Itu naik penggunaan boosternya. Sekarang gak ada lagi triggernya,” ungkapnya.
 
Agus mengungkapkan tak ada data pasti berapa jumlah kelompok rentan secara umum, termasuk disabilitas, yang sudah divaksin. Menurut dia pendataan vaksinasi masih belum terpilah dan hanya berdasarkan usia. Ia mengatakan pemerintah DIY sudah pernah mengusulkan pemilahan itu ke pemerintah pusat meskipun belum terealisasi.
 
Menurut Agus yang perlu dilakukan saat ini adalah kembali menggerakkan masyarakat untuk bersama membantu vaksinasi untuk kelompok rentan. Di sisi lain, anggapan vaksin tak perlu hingga covid-19 sudah tidak membahayakan harus disisihkan karena belum semua warga terproteksi.
 
“Jadi untuk menjangkau vaksin untuk kelompok rentan dari RT itu penting, memantau sekitar. Data dibawa naik ke atas. Gerakkan vaksinasi difabel bukan difabelnya, tapi lingkungan difabelnya yang digerakkan untuk membantu mengakses vaksin, termasuk membantu akses informasi, akses transportasi,” ujarnya.
 
Diki, salah satu disabilitas di Yogyakarta, mengungkapkan vaksinasi untuk kelompok rentang tak cukup dari dinas kesehatan maupun sosial, namun juga harus melibatkan tokoh setempat. Tokoh yang Diki maksud sesuai dengan jenis disabilitas yang disandang.
 
“Tak hanya Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial, juga melibatkan tokoh disabilitas, salah satunya disabilitas tuli. Kemudian juga informasi sosialisasi berupa visual ditampilkan dengan layar besar agar bisa diakses yang kesulitan,” ungkapnya melalui juru bahasa isyarat.
 

(DEN)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.

Baca Artikel Menarik Lainnya dari Customer.co.id di Google News